webhostdiy.com, sobat tech! Pernah nggak lo mikir, kenapa sih simbol ‘@’ yang aneh itu jadi bagian tak terpisahkan dari alamat email lo? Kayaknya sepele, tapi ceritanya bikin geleng-geleng kepala. Di era digital ini, ‘@’ udah kayak sahabat karib kita saat kirim pesan, tapi dulu, simbol ini hampir aja dilupakan. Yuk, kita kupas tuntas kisahnya dalam gaya santai, biar lo nggak bosan baca. Artikel ini khusus buat lo yang penasaran sama sejarah tech, dan pastinya orisinal banget buat WEBHOSTDIY.COM – situsnya para DIY-er web hosting yang suka bikin situs sendiri tanpa ribet.
Bayangin aja, tahun 1971, dunia internet masih bayi banget. Saat itu, ARPANET – nenek moyangnya internet – baru aja mulai jalan. Nah, ada seorang programmer jenius bernama Ray Tomlinson yang kerja di perusahaan BBN Technologies. Dia lagi sibuk ngoprek sistem pengiriman pesan antar komputer. Sebelum Tomlinson muncul, orang-orang cuma bisa kirim pesan di komputer yang sama, kayak chatting lokal doang. Tapi Tomlinson pengen bikin sesuatu yang lebih besar: pesan yang bisa nyebrang dari satu komputer ke komputer lain di jaringan berbeda.
Tomlinson lagi uji coba program SNDMSG, yang biasa dipake buat kirim pesan di satu mesin. Dia modifikasi program itu supaya bisa kirim ke mesin lain via ARPANET. Dan voila! Pesan pertama yang dia kirim adalah sesuatu yang sederhana banget, mungkin “QWERTYUIOP” atau tes keyboard doang. Tapi yang bikin revolusioner adalah format alamatnya. Dia butuh simbol yang bisa pisahin nama user dari nama host komputer. Pilihan jatuh ke ‘@’. Kenapa? Karena simbol ini jarang banget dipake di nama user atau host saat itu. Tomlinson bilang, “@” itu kayak preposisi tunggal di keyboard, yang artinya “at” atau “di”. Jadi, alamat jadi kayak “user@host” – simpel, tapi genius!
Sebenernya, simbol ‘@’ ini bukan barang baru. Asal-usulnya bisa ditelusur ke abad ke-6 atau ke-7, waktu biarawan Eropa pake ‘@’ sebagai singkatan dari “ad” dalam bahasa Latin, yang artinya “ke arah” atau “di”. Lama-lama, di dunia dagang abad ke-16, ‘@’ dipake buat nyatet harga satuan, kayak “10 apel @ $1”. Di Spanyol, disebut “arroba”, ukuran berat sekitar 25 pon. Di Italia, “amphora” buat ukur anggur. Pokoknya, ‘@’ udah jadi simbol serba guna di akuntansi dan perdagangan lama sebelum Tomlinson lahir. Tapi di era komputer awal, simbol ini nyaris nggak kepake, makanya Tomlinson pilih dia – biar nggak bentrok sama nama-nama yang ada.
Gue yakin lo penasaran, gimana reaksi orang waktu itu? Awalnya, Tomlinson nggak ngumumin besar-besaran. Dia cuma bilang ke temen-temen kantor, “Jangan bilang siapa-siapa, ini cuma eksperimen.” Tapi lambat laun, email nyebar luas di ARPANET. Tahun 1973, email udah makan 75% bandwidth ARPANET! Bayangin, dari tes sederhana jadi pondasi komunikasi modern. Tomlinson sendiri nggak nyangka ‘@’ bakal ikonik banget. Dia bilang dalam wawancara, “Saya pilih ‘@’ karena itu satu-satunya simbol yang masuk akal dan jarang dipake.”
Fast forward ke hari ini, ‘@’ nggak cuma di email, tapi juga di handle media sosial kayak Twitter (eh, sekarang X), Instagram, sampe TikTok. Simbol ini udah jadi bahasa universal digital. Tapi cerita Tomlinson nggak berhenti di situ. Dia terus kontribusi di dunia tech sampe pensiun. Sayangnya, Tomlinson meninggal tahun 2016 di usia 74, tapi warisannya hidup selamanya. Internet Hall of Fame bahkan masukin dia sebagai pionir, karena tanpa ‘@’, email mungkin bentuknya beda banget.
Ngomong-ngomong soal email, buat lo yang lagi bangun situs di WEBHOSTDIY.COM, email hosting itu penting banget lho. Bayangin, lo bisa punya alamat email custom kayak nama@domainlo.com, yang bikin bisnis lo keliatan pro. Di WEBHOSTDIY.COM, lo bisa setup email server sendiri dengan tools DIY yang mudah. Nggak perlu mahal, cukup ikutin tutorial kami, lo udah bisa handle ribuan email tanpa ribet. Ini semua berkat fondasi yang Tomlinson bangun – dari ARPANET ke cloud hosting modern.
Tapi, ada sisi gelapnya juga. Karena email gampang dibikin, spam jadi masalah besar. Tahun 1978, email spam pertama dikirim oleh Gary Thuerk, promosi komputer DEC. Dari situ, email marketing meledak, tapi juga bikin inbox kita penuh sampah. Untungnya, sekarang ada filter AI yang canggih. Tomlinson sendiri nggak suka spam, dia bilang email seharusnya buat komunikasi asli, bukan iklan massal.
Fakta menarik lain: Simbol ‘@’ punya nama beda di tiap negara. Di Belanda disebut “apeklootje” (testikel monyet), di Israel “strudel”, di Jerman “spider monkey”. Lucu kan? Di Indonesia, kita biasa sebut “at” aja, tapi ceritanya bisa jadi bahan obrolan kopi.
Kenapa ‘@’ dipilih karena jarang dipake? Karena di keyboard teletype saat itu, ‘@’ duduk manis di tombol shift+P, dan nggak ada konflik dengan sintaks program. Tomlinson tes semua simbol, tapi ‘@’ yang paling pas. Kalau dia pilih yang lain, misal ‘#’ atau ‘$’, mungkin email lo jadi user#host atau user$host. Untung deh!
kunjungi laman berita terbaru di Indonesiaartnews.or.id
Di dunia web hosting, paham sejarah ini bisa bantu lo appreciate teknologi. Di WEBHOSTDIY.COM, kami punya panduan buat setup email server pakai Postfix atau Dovecot, yang masih pake format ‘@’ Tomlinson. Lo bisa eksperimen sendiri, kayak Tomlinson dulu. Siapa tahu, lo nemu inovasi baru!
Kesimpulannya, simbol ‘@’ yang keliatan biasa ini punya cerita epik. Dari alat dagang kuno ke jantung komunikasi digital, thanks to Ray Tomlinson yang pilih dia karena “jarang dipake”. Jadi, next time lo ketik email, ingat deh kisah ini. Mau tau lebih lanjut soal web hosting dan email? Cek WEBHOSTDIY.COM yuk! Kami punya tips DIY yang bikin lo jadi master tech. Sampai jumpa di artikel selanjutnya, sob!
