webhostdiy.com Bayangin aja, setelah 2025 pasar smartphone sempat naik tipis sekitar 2% secara global, sekarang banyak analis bilang tahun ini malah bisa menyusut. Counterpoint Research, salah satu lembaga riset terkemuka, baru-baru ini merevisi prediksi mereka jadi lebih suram. Mereka proyeksikan pengiriman smartphone global turun 2,1% di 2026. Bahkan dalam skenario terburuk dari IDC, bisa anjlok sampai 5% atau lebih. Wah, ini bukan cuma angka kecil, tapi sinyal besar bahwa industri yang biasanya rame ini lagi menghadapi badai.
Apa sih penyebab utamanya? Yang paling gede adalah lonjakan harga komponen memori, terutama RAM dan DRAM. Permintaan memori buat data center AI lagi meledak-ledaknya. Perusahaan besar seperti Nvidia atau yang bikin server AI butuh stok DRAM gede banget, jadi suplai buat smartphone jadi ketat. Akibatnya, harga komponen naik gila-gilaan. Counterpoint bilang, biaya produksi (Bill of Materials atau BoM) buat HP kelas bawah udah naik 25% dibanding awal tahun lalu. Kelas menengah naik 15%, flagship 10%. Dan prediksi terbaru, bisa tambah lagi 8-15% di kuartal kedua 2026. Bahkan ada yang bilang harga RAM bisa melonjak sampai 40%!
Dampaknya ke konsumen? Harga jual rata-rata smartphone diprediksi naik hampir 7%. Buat HP entry-level di bawah US$200 (sekitar Rp3 jutaan), vendor hampir nggak punya pilihan selain naikin harga atau motong spesifikasi. Beberapa produsen mulai downgrade fitur: kamera dikurangin, layar biasa aja, RAM lebih kecil, atau audio standar. Pokoknya, yang biasa dapat spek oke dengan harga miring, sekarang harus rela bayar lebih atau dapat yang lebih sederhana.
kunjungi laman berita terbaru di indonesiartnews.or.id
Di Indonesia sendiri, situasinya mirip. Pasar kita banyak bergantung HP menengah ke bawah dari brand China seperti Xiaomi, Oppo, Vivo, sampai Infinix. Kalau harga naik, daya beli masyarakat yang lagi ketat bisa bikin orang mikir dua kali buat ganti HP. Apalagi siklus ganti HP sekarang makin panjang—orang lebih betah pakai HP lama yang masih oke, daripada beli baru yang harganya melonjak. IDC bilang, HP non-lipat (yang biasa) bakal paling kena tekanan, pengapalan turun 1,4%. Sementara HP lipat malah tumbuh pesat sampai 29,7%, karena orang cari inovasi yang beda.
Tapi nggak semuanya suram, kok. Ada sisi cerahnya. Produsen besar seperti Apple dan Samsung mungkin lebih kuat posisinya karena brand premium dan margin lebih tebal. Mereka bisa serap kenaikan biaya tanpa naikin harga terlalu gila. Di segmen flagship, inovasi masih berlanjut: AI lebih pintar, kamera lebih canggih, baterai jumbo, sampai desain unik. Contohnya, bocoran Galaxy S26, Xiaomi 17 series, atau Oppo Find N series lipat yang makin tipis dan kuat.
Omdia juga bilang, meski 2026 challenging, vendor yang pintar bisa survive. Mereka harus fokus ke efisiensi, bangun hubungan jangka panjang sama supplier, dan cari revenue lain seperti layanan atau aksesoris. Buat konsumen, ini saatnya bijak: kalau HP sekarang masih lancar, mungkin tahan dulu upgrade. Tunggu harga stabil atau cari promo besar-besaran.
Intinya, awan gelap memang lagi menggantung di atas pasar smartphone 2026. Kenaikan harga RAM gara-gara AI, suplai ketat, plus ekonomi global yang masih nggak pasti, bikin penjualan berpotensi turun pertama kalinya dalam beberapa tahun. Tapi industri tech ini biasa banget adaptasi. Siapa tahu justru muncul inovasi baru yang bikin kita semua excited lagi. Yang pasti, buat kamu yang lagi nimbang beli HP baru, pantengin terus berita ini—jangan sampai ketinggalan momen terbaik di tengah badai!
