HP ‘Hilang’ di Sekolah Jakarta: Apa Benar Mirip Singapura?

Diposting pada

webhostdiy.com — guys, bayangin aja kalau lagi duduk di kelas, tapi HP kesayangan harus disimpen di loker atau dikumpulin ke guru. Nggak bisa scroll TikTok diam-diam atau cek notif WA selama istirahat. Nah, ini bukan mimpi buruk aja, tapi jadi kenyataan buat siswa di Jakarta mulai sekarang! Dinas Pendidikan DKI Jakarta baru aja nerbitin aturan baru yang bikin heboh, namanya Surat Edaran Nomor e-0001/SE/2026 tentang Pemanfaatan Gawai dengan Bijak di Lingkungan Satuan Pendidikan. Intinya, siswa dilarang pakai smartphone, smartwatch, tablet, laptop, dan segala macem gadget selama jam sekolah. Mirip banget sama yang lagi diterapin di Singapura, lho. Penasaran kan, kenapa tiba-tiba begini? Yuk, kita bahas santai tapi lengkap, biar nggak ketinggalan info.

Jadi, ceritanya dimulai dari keputusan Kepala Disdik DKI, Nahdiana, yang bilang kalau kebijakan ini bukan buat ngeban total gadget, tapi lebih ke perlindungan. “Perlu dipahami bahwa aturan ini tidak ditujukan sebagai larangan penuh terhadap penggunaan gawai dalam bentuk apapun, tapi sebagai bentuk

perlindungan dari risiko yang mungkin dialami oleh murid ketika menggunakan gawai secara tidak bijak,” kata Nahdiana. Santai aja, guys, ini katanya buat jaga kualitas otak kita yang lagi berkembang, biar nggak terganggu sama adiksi digital, cyberbullying, atau fokus belajar yang buyar gara-gara notif masuk terus. Bayangin, sebuah kajian dari UNICEF tahun 2023 nemuin kalau 54 persen anak Indonesia pernah kena bullying online. Ngeri kan? Makanya, aturan ini dianggap penting buat lindungin kesehatan mental dan fisik siswa yang masih rentan.

Gimana sih cara nerapinnya? Nggak ribet kok, tapi ketat. Begitu masuk gerbang sekolah, semua gadget harus dimatiin atau diubah ke mode silent. Terus, sebelum pelajaran pertama mulai, siswa wajib kumpulin ke wali kelas, petugas piket, atau tempat khusus yang disediain sekolah. Pulang sekolah baru boleh ambil lagi, kecuali ada instruksi khusus dari guru buat kebutuhan belajar, misalnya presentasi atau riset online di ruang tertentu. Nggak cuma siswa, guru dan staf sekolah juga ikutan dilarang pakai gadget selama jam mengajar. Sekolah juga harus punya narahubung khusus, seperti guru BK atau wali kelas, dan update data kontak darurat siswa biar orang tua bisa hubungin kalau ada apa-apa. Ini berlaku dari SD sampe SMA/SMK di seluruh DKI, lho. Kalau sekolah udah punya aturan sendiri yang mirip, boleh tetep jalan selama nggak bentrok sama SE ini.

kunjungi laman berita terbaru di Indonesiaartnews.or.id

Nah, yang bikin menarik, kebijakan ini disebut mirip sama Singapura. Di sana, mulai Januari 2026, siswa secondary school – yang setara SMP-SMA di kita – dilarang pakai HP dan smartwatch sepanjang jam sekolah, termasuk saat istirahat atau kegiatan ekstrakurikuler. Bukan cuma di kelas, tapi full seharian di sekolah! Alasannya mirip: biar siswa lebih fokus belajar, kurangin distraksi digital, dan bangun interaksi sosial yang lebih nyata. Di Singapura, ini diumumin Kementerian Pendidikan mereka akhir tahun lalu, dan katanya buat lindungin anak-anak dari dampak negatif gadget yang berlebihan. Bedanya, di Jakarta masih ada pengecualian buat pembelajaran khusus, sementara Singapura lebih tegas: no gadget at all selama di sekolah. Keren ya, kalau dipikir-pikir, ini bisa jadi tren global buat bikin sekolah lebih ‘human’ lagi, jauh dari layar.

Tapi, Jakarta bukan yang pertama di Indonesia lho. Di Surabaya, misalnya, ada SE Kota Surabaya Nomor 400.2.4/34733/436.7.8/2025 yang nggak kalah ketat. Siswa boleh pakai HP cuma sebelum atau sesudah pelajaran, atau dalam darurat dengan izin guru. Guru juga dilarang pegang HP selama mengajar, dan ada larangan akses konten negatif seperti pornografi, judi online, atau bullying digital. Bahkan, nggak boleh foto atau video orang tanpa izin, biar privasi terjaga. Di Sulawesi Barat, SE Gubernur No 7 Tahun 2019 lebih fleksibel: siswa bisa nitip gadget ke guru atau kepala sekolah, dan boleh dipake buat pelajaran TIK atau yang butuh dukungan digital, asal diawasi. Jadi, Jakarta ini kayak versi upgraded, lebih fokus ke pengumpulan massal dan perlindungan kognitif. Kalau dibandingin, Jakarta lebih mirip Singapura dalam hal ketegasan, sementara daerah lain masih kasih ruang lebih buat fleksibilitas.

Reaksinya gimana ya? Belum ada demo besar sih, tapi pasti banyak siswa yang protes dalam hati. “Gue gimana kalau mau hubungin ortu?” atau “Belajar online gimana dong?” Nah, makanya sekolah disuruh siapin alternatif, seperti komputer lab atau tablet sekolah buat kebutuhan belajar. Orang tua juga diajak koordinasi buat bimbing anak pakai gadget di rumah secara positif. Katanya Nahdiana lagi, ini komitmen bareng buat kembalikan fokus belajar dan interaksi sosial yang asli. “Kebijakan ini merupakan bentuk komitmen kita bersama dalam menjaga kualitas kognitif siswa-siswi, mengembalikan fokus belajar di ruang kelas, serta merajut kembali interaksi sosial yang nyata di satuan pendidikan DKI Jakarta,” ujarnya. Santai aja, guys, ini bisa jadi peluang buat kita lebih banyak ngobrol langsung sama temen, main bola di lapangan, atau baca buku beneran. Siapa tau, nanti prestasi naik karena nggak terganggu scroll IG terus.

Selain itu, kebijakan ini juga ngebahas dampak jangka panjang. Anak-anak lagi fase di mana kontrol diri belum matang, jadi risiko seperti gangguan tidur gara-gara main game malam-malam atau stres karena komentar online bisa berdampak langsung ke psikologis dan sosial mereka. “Anak berada pada fase perkembangan kontrol diri yang belum matang sehingga risiko tersebut dapat berdampak langsung pada kesehatan psikologis dan sosial,” tambah Nahdiana. Makanya, sekolah harus jadi tempat aman buat tumbuh kembang, bukan arena digital yang liar. Koordinasi dengan profesi guru, komunitas literasi digital, dan orang tua jadi kunci biar aturan ini jalan lancar dan berkelanjutan.

Intinya, guys, larangan ini bukan akhir dunia, tapi awal yang lebih sehat. Kalau di Singapura sukses, kenapa nggak di Jakarta? Mungkin nanti kita liat siswa lebih kreatif tanpa gadget, atau malah nemuin cara curi-curi pakai. Hehe, tapi serius, ini langkah bagus buat masa depan. Kalau lo siswa di Jakarta, siap-siap aja, HP ‘hilang’ sementara di sekolah. Share pendapat lo di komentar ya