Playlist Lawas Zuckerberg Bikin Heboh

Diposting pada

webhostdiy.com –Mark Zuckerberg kembali jadi perbincangan. Bukan karena fitur baru Facebook, Meta AI, atau proyek metaverse-nya, tapi karena sesuatu yang jauh lebih personal dan penuh nostalgia: playlist lagu lawas yang ia dengarkan saat membangun Facebook di masa-masa awal.

Pendiri Facebook itu baru-baru ini membagikan kisah nostalgia tentang musik yang menemani hari-hari panjangnya saat mengembangkan Facebook di kamar asrama Harvard. Unggahan tersebut langsung menarik perhatian publik, karena memperlihatkan sisi Mark Zuckerberg yang jarang terlihat—lebih santai, manusiawi, dan penuh kenangan masa muda.

Musik dan Sejarah Facebook

Dalam ceritanya, Zuckerberg mengungkap bahwa musik memiliki peran penting dalam proses kreatifnya. Saat Facebook masih berupa proyek kecil bernama TheFacebook, musik menjadi “teman setia” yang menemani begadang, ngoding tanpa henti, dan memikirkan bagaimana platform itu bisa menghubungkan orang-orang.

Playlist yang ia bagikan berisi lagu-lagu lawas era awal 2000-an. Bagi banyak orang, daftar lagu tersebut langsung memicu nostalgia—masa ketika internet masih sederhana, media sosial belum mendominasi hidup, dan Facebook masih identik dengan profil polos tanpa algoritma rumit.

Zuckerberg sendiri menyebut bahwa lagu-lagu itu membantunya tetap fokus, rileks, dan bersemangat di tengah tekanan membangun sesuatu dari nol.

Lagu Lawas, Kenangan Lama

Meski tidak semua lagu disebutkan secara detail dalam satu daftar resmi, beberapa genre dan musisi yang ia dengarkan mencerminkan selera musik khas anak muda awal 2000-an. Mulai dari rock alternatif, pop, hingga lagu-lagu yang sering diputar di radio kampus.

kunjungi laman berita terkini di Indonesiaartnews.or.id

Bagi netizen, ini bukan sekadar playlist biasa. Banyak yang merasa “terhubung” karena lagu-lagu tersebut juga menjadi soundtrack hidup mereka di masa sekolah atau kuliah.

Komentar seperti:

  • “Ini playlist masa begadang ngerjain tugas”
  • “Lagu-lagu zaman Friendster”
  • “Berasa balik ke era warnet”

langsung membanjiri media sosial.

Sisi Lain Mark Zuckerberg

Selama ini, Mark Zuckerberg dikenal sebagai sosok serius, kaku, dan sangat teknis. Namun lewat cerita musik ini, publik melihat sisi lain dari dirinya—seorang mahasiswa muda yang juga butuh hiburan, motivasi, dan pelarian dari stres.

Cerita ini juga memperkuat narasi bahwa ide besar sering lahir dari momen sederhana. Bukan dari kantor mewah atau tim besar, tapi dari kamar asrama, laptop sederhana, dan playlist lagu favorit.

Zuckerberg seolah ingin menyampaikan bahwa kesuksesan Facebook bukan hanya soal kode dan bisnis, tapi juga soal emosi, kenangan, dan proses panjang yang manusiawi.

Nostalgia yang Tepat Waktu

Menariknya, cerita nostalgia ini muncul di tengah persaingan ketat dunia teknologi dan media sosial. Facebook kini bukan lagi platform baru, melainkan “raksasa lama” yang harus terus beradaptasi dengan generasi baru.

Dengan membagikan kenangan masa awal Facebook, Zuckerberg seperti mengajak publik kembali mengingat alasan awal platform ini dibuat: menghubungkan orang, bukan sekadar mengejar engagement atau iklan.

Strategi ini dinilai banyak pengamat sebagai langkah soft branding yang cerdas—membangun kedekatan emosional dengan pengguna lama yang mungkin mulai meninggalkan Facebook.

Reaksi Netizen dan Industri Teknologi

Respons publik sebagian besar positif. Banyak yang memuji kejujuran Zuckerberg dalam berbagi cerita personal. Ada juga yang bercanda, mengatakan bahwa “playlist sukses miliarder” ini mungkin bisa menginspirasi startup baru.

Di sisi lain, para pelaku industri teknologi melihat ini sebagai pengingat bahwa budaya kerja, suasana hati, dan kreativitas punya peran besar dalam inovasi. Musik, yang sering dianggap sepele, ternyata bisa menjadi bahan bakar ide besar.

Beberapa startup founder bahkan ikut membagikan playlist nostalgia mereka sendiri, menciptakan tren kecil di media sosial.

Lebih dari Sekadar Playlist

Kisah ini menunjukkan bahwa nostalgia punya kekuatan besar. Bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tapi juga untuk membangun koneksi di masa sekarang.

Bagi Mark Zuckerberg, playlist lagu lawas itu adalah pengingat perjalanan panjang dari mahasiswa biasa menjadi salah satu tokoh teknologi paling berpengaruh di dunia. Bagi publik, itu adalah jendela kecil untuk melihat bahwa di balik perusahaan raksasa, ada cerita sederhana yang relatable.

Dan bagi generasi muda yang sedang membangun mimpi—entah startup, karya, atau karier—cerita ini menjadi pengingat bahwa ide besar bisa lahir sambil mendengarkan lagu favorit, di ruang kecil, dengan keyakinan besar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *