WEBHOSTDIY.COM, heboh banget nih akhir-akhir ini soal Grok, chatbot AI buatan xAI milik Elon Musk. Banyak yang bilang Grok kelewat bebas, sampe bisa bikin konten asusila, deepfake seksi, bahkan gambar “telanjang” orang nyata lewat fitur edit foto. Akhirnya, Indonesia dan Malaysia langsung blokir akses ke Grok awal Januari 2026. Tapi Elon Musk nggak tinggal diam, dia langsung angkat bicara dan bela mati-matian AI-nya ini. Apa sih yang bikin dia segitu yakinnya?

Ceritanya dimulai dari laporan media internasional, termasuk Reuters dan CNN, yang nyebut Grok sering disalahgunakan user buat generate gambar eksplisit. Bayangin aja, user tinggal upload foto cewek atau bahkan anak di bawah umur, terus minta Grok “undress” atau ganti baju jadi bikini minim, atau malah lebih parah lagi. Hasilnya? Ribuan gambar deepfake pornografi non-konsensual beredar di X (dulu Twitter). Peneliti AI Forensics sampe analisis 20.000+ gambar acak dan 50.000 request user, dan hasilnya bikin geleng-geleng kepala: banyak banget kata-kata seperti “remove clothes”, “bikini”, atau “naked” yang lolos filter.

Pemerintah Indonesia langsung gercep. Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid bilang blokir ini demi lindungi perempuan, anak-anak, dan masyarakat dari konten pornografi palsu berbasis AI. Malaysia juga ikutan, sementara blokir sementara karena khawatir penyalahgunaan berulang. Ini jadi negara pertama di dunia yang resmi blokir Grok. Di Indonesia sendiri, Kominfo udah kasih notice ke X Corp dan xAI buat perketat safeguard, tapi responsnya dianggap kurang memuaskan.

Nah, Elon Musk yang biasanya cuek sama kritik, kali ini langsung reply di X. Dia bilang, “Grok nggak bakal generate gambar ilegal. Dia cuma nurut request user, tapi selalu tolak yang melanggar hukum di negara masing-masing.” Musk juga ngejelasin soal pengaturan NSFW di Grok: kalau diaktifin, Grok bolehin nudity bagian atas tubuh manusia dewasa imajiner (bukan orang nyata), sesuai standar film R-rated di Apple TV. “Itu standar de facto di Amerika,” katanya. “Di negara lain ya sesuain sama undang-undang lokal.”

Dia juga ngaku nggak tahu kalau ada kasus gambar anak di bawah umur yang lolos. “Kalau ada prompt adversarial yang nge-hack sistem, kita langsung fix bug-nya,” ujar Musk. Intinya, dia nge-push prinsip kebebasan: Grok dirancang beda dari AI lain yang katanya “woke” dan terlalu banyak sensor. Musk sering bilang dia anti-censorship berlebihan, dan ini bagian dari misi xAI buat AI yang “maximally truth-seeking” dan nggak takut kontroversi.
kunjungi juga laman berita terkini di Indonesiaartnews.or.id
Tapi nggak cuma omong doang. Setelah kontroversi meledak, X langsung gerak cepat. Mereka batasi fitur Grok buat edit gambar orang nyata, khususnya yang berbau “undressing”. Sekarang, cuma subscriber berbayar yang bisa akses image editing, dan pun tetap ada batasan ketat. Grok juga nggak bisa lagi edit foto orang pake bikini atau pose sugestif. Musk bilang ini buat patuhin hukum lokal, termasuk di negara-negara yang blokir.
Kontroversi ini bikin banyak pihak prihatin. Di Inggris, Ofcom lagi investigasi X soal kemungkinan konten ilegal seperti child sexual abuse material. Uni Eropa dan India juga angkat suara khawatir soal guardrail Grok yang lemah. Di sisi lain, pendukung Musk bilang ini cuma serangan media mainstream ke dia, karena Grok emang beda—lebih bebas, lebih jujur, dan nggak ikut-ikutan sensor berlebihan kayak AI kompetitor.
Buat kita di Indonesia, kasus ini jadi pengingat: teknologi AI maju cepat, tapi regulasi dan etika masih ketinggalan. Blokir Grok mungkin efektif sementara, tapi pertanyaan besarnya: gimana caranya bikin AI yang powerful tapi tetap aman? Elon Musk jelas punya pandangan sendiri—kebebasan dulu, baru regulasi. Tapi buat korban deepfake, khususnya perempuan dan anak, ini bukan cuma soal “freedom of speech”, tapi soal privasi dan martabat.
Jadi, apakah Grok bakal balik lagi di Indonesia? Mungkin kalau xAI bisa buktiin mereka serius perketat filter. Tapi selama Elon Musk masih pegang kendali, kemungkinan besar Grok bakal tetap jadi AI yang “berani” dan kontroversial. Kamu tim mana: bela kebebasan AI atau prioritasin perlindungan masyarakat?



