Webhostdiy.com – Dunia kejahatan siber benar-benar mengalami transformasi yang mengerikan. Terlebih lagi, para pelaku kejahatan kini dengan lincah menunggangi gelombang booming teknologi kecerdasan buatan (AI). Akibatnya, ransomware berbasis AI pun menjadi semakin liar dan ramai berkeliaran di dunia digital. Lebih mengejutkan lagi, temuan ini terkuak secara gamblang dalam laporan terbaru ESET Threat Report H2 2025 yang baru saja dirilis oleh para peneliti ESET.
Lebih detailnya, laporan yang merangkum seluruh aktivitas kejahatan siber periode Juni hingga November 2025 itu secara spesifik mencatat kemunculan sosok baru yang dinamai PromptLock. Yang membuat kita bergidik, PromptLock disebut-sebut sebagai ransomware berbasis AI pertama di dunia. Dengan memanfaatkan AI, malware “pintar” ini mampu secara dinamis menciptakan skrip berbahaya yang sangat sulit diprediksi. Padahal, kita semua tahu bahwa AI sebenarnya sudah sangat sering dimanfaatkan untuk membuat konten phishing atau scam yang menipu.
Namun, perlu diingat bahwa kemunculan ransomware berbasis AI seperti PromptLock ini jelas menunjukkan arah ancaman yang jauh lebih serius dan berbahaya. Oleh karena itu, kita semua harus menjadikan ini sebagai alarm bahaya tingkat tinggi, khususnya dalam menghadapi gempuran serangan siber di Indonesia,” tegas Yudhi Kukuh, CTO Prosperita Group, dalam keterangan resmi yang diterima media pada Kamis (1/1/2026). Di sisi lain, ancaman ransomware konvensional sendiri ternyata juga menunjukkan lonjakan yang sangat tajam sepanjang 2025.
ESET kemudian membeberkan data yang mencengangkan, jumlah korban ransomware tahun 2025 telah jauh melampaui angka korban di tahun 2024. Bahkan, sebelum akhir tahun, proyeksi kenaikannya telah mencapai 40 persen secara year-on-year. Tak hanya itu, ransomware juga kini tidak lagi hanya menyasar perusahaan-perusahaan besar dengan sistem keamanan kuat. Kini, Usaha Kecil dan Menengah (UKM), institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu biasa pun menjadi target empuk, terutama yang belum memiliki sistem keamanan berlapis atau kebiasaan digital yang aman.
Selain fokus pada ransomware, ESET juga mengungkap fakta bahwa modus penipuan investasi dan scam online terus berevolusi dengan sangat cepat. Salah satu yang paling mencolok adalah skema Nomani scam, yang mengalami peningkatan deteksi fantastis hingga 62 persen secara tahunan. Para pelakunya dengan licik memanfaatkan teknologi deepfake berkualitas tinggi, situs phishing buatan AI, serta iklan digital yang muncul sangat singkat untuk menghindari pendeteksian oleh sistem keamanan maupun mata pengguna.
Beralih ke sektor perangkat mobile, ESET juga mencatat lonjakan signifikan serangan berbasis Near Field Communication (NFC). Bahkan, peningkatan deteksinya mencapai angka yang fantastis, yaitu 87 persen pada paruh kedua 2025. Malware lama seperti Ngate kini telah ditingkatkan kemampuannya untuk mencuri kontak pengguna, sementara malware baru bernama RatOn muncul dengan menggabungkan kemampuan remote access trojan (RAT) dengan serangan relay NFC yang canggih. RatOn biasanya disebarkan melalui halaman Google Play palsu dan iklan yang menyamar sebagai aplikasi populer, termasuk aplikasi layanan perbankan digital yang sering kita gunakan.
Sementara itu, ada sedikit kabar baik di tengah maraknya ancaman baru. Infostealer Lumma Stealer yang sempat merebak hebat pada awal 2025 ternyata mengalami penurunan drastis. Setelah infrastrukturnya mengalami gangguan pada Mei lalu, tingkat deteksinya pun terjun bebas hingga 86 persen pada paruh kedua tahun ini. Akan tetapi, penurunan tersebut harus tetap kita waspadai karena justru diikuti oleh kemunculan malware baru yang lebih ganas seperti CloudEyE (atau GuLoader). Yang mengkhawatirkan, deteksi terhadap malware ini melonjak hampir 30 kali lipat dan sering digunakan sebagai pintu masuk untuk serangan ransomware serta pencurian data sensitif lainnya. Jadi, jangan pernah berhenti waspada!
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id

