Cuti ‘Gak Bahagia’ 10 Hari: Bos China Bikin Karyawan Senyum Lebar!

Diposting pada

webhostdiy.com –Bayangin deh, lagi bad mood berat,Cuti ‘Gak Bahagia’ 10 Hari: Bos China Bikin Karyawan Senyum Lebar! pengen rebahan di rumah tanpa diganggu kerjaan. Eh, bos malah bilang, “Gak usah masuk kerja kalau lagi gak happy!” Kedengeran kayak mimpi? Tapi ini beneran kejadian di China, lho. Sebuah perusahaan retail raksasa bernama Pang Dong Lai baru aja ngumumin kebijakan cuti spesial yang bikin heboh dunia maya. Namanya “unhappy leave” atau cuti gak bahagia, di mana karyawan bisa ambil libur tambahan sampai 10 hari setahun kalau lagi merasa down. Gila, kan? Ini bukan cuma gimmick, tapi bagian dari upaya perusahaan buat bikin karyawannya lebih sehat jiwa raga. Kita bahas yuk, gimana ceritanya, kenapa ini penting, dan mungkin bisa jadi inspirasi buat perusahaan di Indonesia.

Jadi, ceritanya dimulai dari Yu Donglai, pendiri dan chairman Pang Dong Lai. Dia ini sosok yang dikenal sebagai bos ramah karyawan di China, negara yang terkenal dengan budaya kerja overtime alias 996 – kerja dari jam 9 pagi sampe 9 malam, 6 hari seminggu. Yu gak setuju banget sama itu. Di acara China Supermarket Week akhir Maret 2024, dia ngumumin kebijakan baru ini. Katanya, “Setiap orang pasti ada saatnya gak happy. Kalau lagi gak happy, jangan dateng kerja aja.” Sederhana tapi powerful! Cuti ini dibayar penuh, dan yang paling keren, manajer gak boleh nolak permintaan karyawan. Kalau nolak, malah dianggap pelanggaran. Ini berarti karyawan punya kebebasan penuh buat istirahat kapan aja mereka butuh, tanpa takut bonus atau promosi terganggu.

Pang Dong Lai sendiri bukan perusahaan kecil-kecilan. Mereka chain supermarket di provinsi Henan, China tengah, dengan lebih dari 7.000 karyawan. Berdiri sejak lama, perusahaan ini udah punya reputasi sebagai tempat kerja idaman. Selain unhappy leave, mereka kasih banyak benefit lain yang bikin iri. Misalnya, jam kerja cuma 7 jam sehari – bandingin sama kita yang sering lembur sampe malam. Libur akhir pekan full, plus cuti tahunan yang super royal: 30 sampai 40 hari dibayar! Belum lagi cuti Tahun Baru Imlek yang bisa sampe 5 hari ekstra. Yu bilang, tujuannya supaya karyawan punya waktu cukup buat istirahat di luar kerja, biar hidup lebih balance. Dia bahkan kritik keras budaya kerja China yang suka glorifikasi overtime, katanya itu gak sehat dan bikin orang stres.

Kenapa Yu sampe bikin kebijakan kayak gini? Latar belakangnya, di China lagi marak masalah kesehatan mental. Menurut laporan, sekitar 40% pekerja di sana berisiko kena gangguan mental, apalagi yang usia 18-25 tahun yang sering anxiety dan depresi gara-gara pengangguran naik dan biaya hidup mahal. Yu liat ini sebagai masalah besar, dan dia mau Pang Dong Lai jadi contoh. “Karyawan harus punya kebebasan,” katanya. Ini bukan pertama kalinya dia inovatif. Sebelumnya, perusahaan ini juga punya program seperti bonus akhir tahun gede, asuransi kesehatan lengkap, dan bahkan dukungan buat keluarga karyawan. Hasilnya? Turnover karyawan rendah, produktivitas tinggi, dan bisnisnya maju terus.

kunjungi laman berita terkini di Indonesiaartnews.or.id

Reaksi netizen? Wah, meledak banget! Di Weibo, platform sosial mirip Twitter di China, postingan tentang unhappy leave ini viral. Banyak yang komentar, “Mau banget kerja di sana!” atau “Bos kayak gini yang kita butuhin!” Ada juga yang bilang ini revolusi di dunia kerja China, di mana biasanya karyawan cuma punya cuti standar 5-15 hari tahunan. Tapi gak semua positif, lho. Beberapa skeptis, takut kebijakan ini disalahgunakan atau cuma buat promosi. Tapi secara keseluruhan, diskusi online ini bikin orang sadar betapa pentingnya kesehatan mental di tempat kerja. Bahkan, di luar China, berita ini nyebar ke media internasional kayak SCMP dan HR Brew, yang ngebahas gimana ini bisa jadi tren global.

Ngomongin global, gimana kalau di Indonesia? Kita tahu banget, budaya kerja di sini juga sering overtime, apalagi di kota besar kayak Jakarta atau Yogyakarta. Menurut survei, banyak karyawan Indonesia yang stres karena beban kerja berat, terutama pas pandemi. Bayangin kalau perusahaan lokal nerapin unhappy leave. Pasti banyak yang seneng! Tapi tantangannya, perusahaan kecil mungkin susah kasih cuti ekstra karena biaya. Tapi, manfaatnya jelas: karyawan lebih loyal, kurang absen karena sakit, dan lebih kreatif. Di US aja, laporan BambooHR bilang karyawan lagi pada gak happy sejak 2020, jadi kebijakan kayak ini bisa jadi solusi.

Dari sisi psikologi, unhappy leave ini pintar banget. Psikolog bilang, istirahat singkat saat stres bisa cegah burnout. Kalau dipaksa kerja saat gak mood, malah produktivitas turun dan error lebih banyak. Ini mirip konsep “mental health day” yang lagi tren di Barat, tapi Pang Dong Lai bikinnya lebih fleksibel – sampe 10 hari! Yu sendiri bilang, dia mau karyawannya hidup bahagia, bukan cuma kerja keras. Ini filosofi yang langka di dunia bisnis, di mana biasanya profit di atas segalanya.

Tapi, apakah ini bakal nular ke perusahaan lain? Di China, beberapa perusahaan tech kayak Alibaba atau Tencent udah mulai kasih cuti lebih banyak, tapi unhappy leave ini unik. Mungkin bakal ada yang ikut, terutama kalau Pang Dong Lai buktiin kalau kebijakan ini bikin bisnis lebih sukses. Buat kita di Indonesia, ini bisa jadi inspirasi buat HR atau bos perusahaan. Mulai dari kasih cuti fleksibel atau program konseling gratis. Siapa tahu, Webhostdiy.com atau perusahaan web hosting lain bisa adaptasi ini buat timnya yang sering deadline ketat.

Intinya, kebijakan Pang Dong Lai ini nunjukin kalau bisnis bisa sukses tanpa nyiksa karyawan. Yu Donglai jadi role model baru: bos yang peduli manusiawi. Kalau lagi bad mood, ambil cuti aja! Siapa yang gak mau? Semoga tren ini nyebar, biar dunia kerja lebih manusiawi. Kamu gimana, pengen cuti gak bahagia gini gak? Share di komentar yuk!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *