DENPASAR, webhostdiy.com – Apple Developer Academy di Bali menghadirkan mentor-mentor dengan latar belakang beragam yang memperkaya metode pengajaran mereka. Tiga mentor, yaitu John Keating, Richard Evan Sutanto, dan Adhella Subalie, mengungkapkan bahwa setiap mentor memiliki keunikan dalam mendampingi siswa. Meskipun gaya mereka berbeda, mereka sepakat bahwa proses belajar lebih penting daripada sekadar hasil akhir dalam berinovasi.
Menurut John Keating, prinsip utama yang ia tekankan adalah “making a product is progress”. Baginya, mengembangkan produk bukan tentang mencapai kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk melalui proses dan terus memperbaiki karya. Ia menegaskan bahwa siswa perlu didorong untuk menghargai perjalanan dalam membangun solusi, karena pembelajaran terbesar justru muncul dari tahapan ini.

Adhella Subalie menambahkan bahwa dimensi profesional dalam pengembangan produk sangatlah krusial. “Bagaimana membuatnya profesional? Prosesnya akan terus mengalami iterasi, iterasi, dan iterasi lagi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa tidak ada proyek yang selesai dalam satu kali percobaan, tetapi membutuhkan pengulangan agar produk semakin matang dan relevan bagi pengguna. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap solusi tidak hanya fungsional tetapi juga berdampak nyata.
Sementara itu, Richard Evan Sutanto menyoroti penerapan metode Challenge-Based Learning (CBL) sebagai tulang punggung kurikulum akademi. Proses CBL biasanya terbagi dalam tiga tahap: memahami masalah (investigate case), mengeksplorasi ide, dan merancang solusi. Richard menekankan bahwa CBL memungkinkan iterasi berkelanjutan, sehingga siswa tidak hanya sekadar membuat produk, tetapi juga memahami konteks masalah secara mendalam.
Dengan CBL, Apple Developer Academy berhasil menciptakan lingkungan belajar yang inspiratif dan dinamis. Siswa tidak hanya diajarkan keterampilan teknis seperti coding dan desain, tetapi juga didorong untuk berpikir kritis tentang dampak produk mereka terhadap masyarakat dan lingkungan. Pendekatan ini membentuk peserta menjadi pembuat solusi yang profesional, empatik, dan bertanggung jawab.
Akademi Bali menonjol karena keberagaman mentor dan siswanya, termasuk penerimaan peserta internasional. Hal ini memperkaya perspektif dalam setiap proyek yang dikembangkan. Selain itu, kolaborasi dengan industri lokal dan global memastikan bahwa solusi yang dihasilkan tidak hanya inovatif tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata.

Meskipun iterasi dan proses panjang seringkali menantang, para mentor meyakini bahwa ini adalah cara terbaik untuk mempersiapkan generasi inovator masa depan. Mereka berharap lulusan akademi tidak hanya terjun ke dunia teknologi, tetapi juga menjadi agen perubahan yang berkontribusi positif bagi masyarakat.
kunjungi laman berita terbaru di Exposenews.id
Apple Developer Academy di Bali, dengan pendekatan CBL dan mentor yang berdedikasi, telah menciptakan ekosistem yang ideal untuk mencetak talenta digital unggulan. Para siswa tidak hanya belajar membuat aplikasi, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai iterasi, kolaborasi, dan dampak sosial. Ini menjadikan akademi ini sebagai pilihan utama bagi mereka yang ingin berkarya di dunia teknologi sekaligus berkontribusi bagi dunia.