webhostdiy.com Bayangin deh, sehari-hari cuma tidur 8 jam, sisanya habis buat scroll Instagram. Gila nggak tuh? Tapi menurut bos Instagram sendiri, itu bukan berarti kamu kecanduan. Yup, Adam Mosseri, Head of Instagram, baru aja bikin heboh lewat kesaksiannya di pengadilan California awal Februari 2026.
Ceritanya berawal dari gugatan class action yang lagi ramai-ramainya di Amerika. Ratusan keluarga menggugat Meta (induk Instagram) dan Google (pemilik YouTube), tudingan utamanya: platform mereka sengaja dirancang supaya anak-anak dan remaja ketagihan. Algoritma rekomendasi konten katanya dibuat biar orang terus-terusan nggak bisa berhenti scroll, demi nambah waktu tayang dan untung iklan.

Salah satu kasus yang paling disorot adalah seorang perempuan berusia 20 tahun bernama Kaley G.M. Dia mulai pakai YouTube sejak umur 6 tahun, Instagram dari umur 11, lalu lanjut ke Snapchat dan TikTok. Akibatnya? Kesehatan mentalnya rusak parah, katanya karena terlalu lama terpapar konten di medsos. Penggugat bilang, ini bukti kalau desain aplikasi Meta bikin adiksi dan berdampak buruk buat generasi muda.

Nah, di persidangan tanggal 12 Februari 2026, Adam Mosseri dipanggil jadi saksi. Dia langsung ditekan soal penggunaan ekstrem kayak 16 jam sehari. Pengacara penggugat nanya, “Apakah ini termasuk kecanduan?” Mosseri jawab tenang: “Itu terdengar seperti penggunaan yang bermasalah (problematic use), tapi bukan kecanduan secara klinis.”
kunjungi juga laman berita terkini di indonesiaartnews.or.id
Dia nggak mau nyebut “kecanduan” atau addiction dalam arti medis. Menurutnya, nggak ada bukti klinis yang kuat kalau media sosial bisa bikin orang kecanduan kayak narkoba atau alkohol. “Batas berapa lama yang ‘terlalu lama’ itu relatif banget, tergantung orangnya,” kata Mosseri. Ada orang yang scroll lama tapi merasa oke, ada yang cuma sejam udah ngerasa nggak nyaman. Jadi, ini lebih ke masalah pribadi, bukan desain aplikasi yang salah.
Mosseri juga bilang dia bukan ahli kesehatan mental atau kecanduan. Dia cuma bos produk, bukan dokter. Tapi dia akui kalau penggunaan berlebihan bisa jadi masalah, dan Instagram punya fitur buat bantu orang ngatur waktu, kayak reminder screen time atau batas harian.

Pernyataan ini langsung bikin netizen rame. Banyak yang protes: “16 jam sehari nggak kecanduan? Lah, tidur sama makan aja cuma 8 jam sisanya!” Ada yang bilang ini cuma pembelaan perusahaan biar nggak disalahin. Di sisi lain, ada juga yang setuju: kecanduan klinis itu diagnosis medis serius, nggak bisa sembarangan dilabelin ke kebiasaan scroll medsos.
Persidangan ini sendiri bagian dari gelombang besar tuntutan terhadap Big Tech soal dampak medsos ke anak muda. Sejak beberapa tahun terakhir, studi dan laporan makin banyak nunjukin hubungan antara penggunaan berat Instagram, TikTok, dll dengan depresi, anxiety, gangguan makan, bahkan pikiran bunuh diri di kalangan remaja. Meta sendiri udah pernah bocor dokumen internal yang nunjukin mereka tahu risiko ini, tapi tetap prioritaskan pertumbuhan user.
Tapi Mosseri tetep ngotot: Instagram nggak sengaja target remaja buat maksimalin profit. Fitur seperti Reels atau Explore katanya dirancang buat kasih konten yang orang suka, bukan buat bikin ketagihan. “Kita terus improve fitur keselamatan, terutama buat akun remaja,” tambahnya.
Buat kita di Indonesia yang rata-rata screen time medsosnya tinggi banget, pernyataan ini bikin mikir. Banyak anak muda yang bisa scroll berjam-jam tanpa sadar, dari pagi sampe malam. Apakah ini cuma “problematic use” atau udah masuk kategori kecanduan? Mungkin jawabannya ada di tengah-tengah.
Yang jelas, kasus ini belum selesai. Lebih banyak eksekutif tech yang bakal dipanggil, dan putusan pengadilan bisa jadi preseden besar buat regulasi medsos di seluruh dunia. Termasuk di sini, mungkin pemerintah bakal lebih ketat soal perlindungan anak di platform digital.
Jadi, next time scroll IG sampe lupa waktu, inget kata bosnya: bukan kecanduan kok, cuma… agak bermasalah aja. Tapi ya, mending sesekali logout, deh. Dunia nyata juga seru lho!



