webhostdiy.com — Akhir-akhir ini, WhatsApp yang biasanya tenang-tenang aja sebagai aplikasi chat nomor satu dunia, tiba-tiba jadi pusat perhatian. Mulai dari digugat di pengadilan, dikritik habis-habisan sama Elon Musk dan bos Telegram, sampai akhirnya diblokir total di Rusia. Kayak lagi apes banget deh! Yuk, kita kupas satu per satu biar lebih jelas apa yang lagi terjadi sama aplikasi yang dipake miliaran orang ini.

Semuanya bermula dari gugatan class action di San Francisco, Amerika Serikat, awal tahun 2026. Gugatan ini nuduh Meta (induk perusahaan WhatsApp) bohong soal keamanan enkripsi end-to-end. Katanya, WhatsApp bisa aja ngintip atau akses isi chat pribadi pengguna, padahal selama ini mereka ngaku pesan aman banget karena pakai enkripsi ujung ke ujung. Kalau bener, ini bisa jadi bom waktu buat privasi jutaan orang.
kunjungi laman berita terkini di indonesiaartnews.or.id

Gugatan ini langsung bikin heboh. Pavel Durov, CEO Telegram yang memang saingan berat WhatsApp, langsung nyinyir. Dia bilang, “Orang bodoh aja yang masih percaya WhatsApp aman di tahun 2026.” Durov bahkan klaim kalau timnya pernah analisis implementasi enkripsi WhatsApp dan nemu banyak celah yang bisa dieksploitasi. Keras banget ya kritiknya!

Nggak mau kalah, Elon Musk ikut nimbrung. Lewat akun X-nya, Musk langsung setuju sama Durov dan bilang, “WhatsApp nggak aman.” Dia bahkan promosiin X Chat sebagai alternatif yang lebih oke. Musk ini emang suka bikin kontroversi, tapi kali ini dia langsung disamber balik sama kepala WhatsApp, Will Cathcart. Cathcart bilang tuduhan itu “totally false” alias bohong banget. Dia tegas bahwa kunci enkripsi ada di HP pengguna, Meta nggak bisa baca pesan sama sekali. Bahkan, dia sebut gugatan ini cuma cari sensasi dari firma hukum yang pernah bela NSO Group, perusahaan spyware yang pernah diserang WhatsApp dulu.
Tapi drama nggak berhenti di situ. Belum lama setelah kritik dari Musk dan Durov, giliran pemerintah Rusia yang ambil tindakan tegas. Pada Februari 2026, Rusia resmi blokir total akses WhatsApp di negaranya. Alasannya? WhatsApp (dan Meta) dinilai nggak patuh sama hukum lokal. Rusia minta perusahaan teknologi asing punya perwakilan resmi di sana, plus kasih data atau konten kalau diminta aparat. Meta ogah-ogahan, jadi ya diblokir deh.
Akibatnya, sekitar 100 juta pengguna di Rusia kehilangan akses langsung ke WhatsApp. Mereka harus pakai VPN kalau mau tetep chat lewat aplikasi ini. Kremlin malah dorong warganya pindah ke aplikasi pesan buatan dalam negeri bernama MAX, yang dikembangkan VK (sosmed raksasa Rusia). Bedanya, MAX nggak pakai enkripsi end-to-end full, dan katanya siap bagi data ke pemerintah kalau diminta. Kritikus bilang ini lebih ke alat pengawasan daripada aplikasi chat biasa.
WhatsApp sendiri langsung protes keras. Mereka bilang pemblokiran ini langkah mundur yang bikin komunikasi pribadi dan aman di Rusia jadi terancam. Spokesperson WhatsApp nyebut ini upaya buat paksa orang pindah ke “aplikasi pengawasan milik negara”. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, balas bahwa Meta harus nurut hukum Rusia kalau mau dibuka lagi.
Jadi, kenapa WhatsApp tiba-tiba kena badai begini? Di satu sisi, ada isu privasi dan kepercayaan pengguna yang lagi diuji lewat gugatan dan kritik dari kompetitor besar. Di sisi lain, ada konflik geopolitik antara perusahaan teknologi Amerika (Meta) sama pemerintah Rusia yang lagi getol kontrol digital. Rusia udah lama kesel sama Meta – bahkan labelin mereka “ekstremis” – jadi blokir WhatsApp ini kayak kelanjutan dari tekanan sebelumnya ke Telegram dan platform lain.
Buat pengguna biasa di Indonesia atau negara lain, mungkin nggak langsung kena dampak. Tapi ini jadi pengingat: privasi chat kita nggak selalu 100% aman seperti yang diiklankan. Enkripsi end-to-end emang kuat, tapi kalau ada celah implementasi atau tekanan pemerintah, bisa aja jadi masalah. Plus, kalau negara-negara mulai blokir aplikasi asing, pilihan kita bisa makin terbatas.
Intinya, WhatsApp lagi di ujung tanduk. Dari gugatan di AS, serangan verbal Elon Musk, sampai blokir di Rusia – semuanya datang beruntun. Apakah ini cuma badai sementara, atau bakal bikin pengguna massal migrasi ke Telegram, Signal, atau X Chat? Kita tunggu aja kelanjutannya. Yang pasti, dunia chat lagi panas banget nih!



