Webhostdiy.com – Lembaga antariksa paling top di dunia, NASA, kini tengah bersiap dengan detik-detik paling mendebarkan: mereka akan menerbangkan kru Artemis II ke luar angkasa. Bahkan, misi epik ini secara resmi ditujukan untuk menjalankan ekspedisi kembali ke Bulan. Sungguh, ini akan menjadi misi berawak pertama ke sang rembulan, terlebih sejak program legendaris Apollo terakhir kali mendarat di sana pada 1972 silam.
Setelah melalui serangkaian percobaan super ketat dan menghadapi penundaan yang cukup membuat penasaran, misi Artemis II akhirnya dinyatakan siap untuk mengangkut roket raksasa Space Launch System (SLS) beserta pesawat ruang angkasa Orion yang canggih ke Kennedy Space Center. Menurut tim NASA yang penuh pengalaman, pihaknya sekarang sedang mempersiapkan gladi bersih akhir yang dijadwalkan pada akhir Januari 2026. Alhasil, misi bersejarah ini berpotensi besar untuk dilangsungkan lebih cepat, yaitu paling cepat pada 6 Februari nanti.
“Tanpa keraguan, ini adalah upaya heroik menuju misi berawak AS yang baru ke permukaan Bulan,” tegas NASA dengan penuh wawasan. “Lebih dari itu, misi ini akan menjadi fondasi kokoh untuk kehadiran jangka panjang kita di Bulan, yang secara krusial akan membantu kami mempersiapkan pengiriman astronot pertama AS ke Planet Mars.”
Sebenarnya, misi Artemis II sempat dijadwalkan meluncur jauh lebih awal, yaitu pada tahun 2024. Awalnya, misi ini direncanakan berlangsung pada November 2024, dengan menunjuk astronot Reid Wiseman yang sangat kompeten sebagai komandan dan didukung oleh tiga kru pilihan lainnya. Namun, kemudian jadwalnya harus diundur hingga September 2025, lalu bergeser lagi ke April 2026. Yang menarik, setelah dievaluasi mendalam, jadwal akhirnya justru dipercepat dan diputuskan untuk diluncurkan lebih awal, yaitu pada Februari nanti.
Selain dipimpin oleh Wiseman, kru yang sangat beragam dan ahli ini juga terdiri dari Victor Glover, Christina Koch dari NASA, serta astronot Jeremy Hansen dari badan antariksa Kanada (CSA). Mereka semua akan menjadi awak inti pesawat luar angkasa Orion yang menjalankan misi Artemis II. Tugas utama mereka adalah menguji semua sistem pendukung kehidupan pesawat selama kurang lebih 10 hari. Tidak main-main, mereka akan menempuh perjalanan luar biasa sejauh lebih dari 4.000 mil menuju sisi jauh Bulan, yaitu bagian Bulan yang misterius karena tidak pernah menghadap ke Bumi akibat terkunci secara gravitasi.
Bila misi ambisius ini berhasil, NASA pasti akan membawa umat manusia selangkah lebih dekat ke puncak perlombaan antariksa modern. Secara khusus, kesuksesan ini akan kembali mengantarkan manusia ke Bulan setelah lebih dari setengah abad. Di samping itu, misi ini juga dirancang untuk menunjang eksplorasi ilmiah lebih lanjut yang sangat mendalam. Bahkan, pemanfaatan sumber daya di permukaan Bulan hingga persiapan misi antarplanet yang lebih jauh bisa segera diwujudkan.
Perlu dicatat, selain AS, kompetisi eksplorasi Bulan juga diramaikan oleh negara lain. Misalnya, badan antariksa China (CNSA) yang penuh prestasi telah berhasil mendaratkan sejumlah misi ke Bulan, meskipun masih tanpa awak. National Space Administration China sendiri telah dengan percaya diri menargetkan pendaratan manusia di Bulan pada tahun 2030 mendatang. Sementara itu, Indian Space Research Organization (ISRO) dari India juga tidak mau ketinggalan; mereka telah sukses mendaratkan wahana tanpa awak di wilayah kutub selatan Bulan yang penuh tantangan.
Tidak ketinggalan, sektor swasta pun turut mendorong gegap gempita misi ke Bulan, Mars, dan lainnya. Perusahaan wahana antariksa milik Elon Musk, SpaceX, secara agresif mengembangkan teknologi yang dapat mendukung misi-misi ini. Akibatnya, deretan misi ke luar angkasa menjadi semakin ramai dan kompetitif, membuktikan bahwa era baru eksplorasi antariksa telah benar-benar dimulai.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id



