Webhostdiy.com – Induk perusahaan TikTok, ByteDance, konon sedang mempersiapkan anggaran yang sungguh fantastis, bahkan bisa dibilang gila-gilaan, untuk memborong habis chip kecerdasan buatan (AI) andalan Nvidia di tahun 2026 ini. Menurut laporan eksklusif dari Tom’s Hardware yang merujuk South China Morning Post, raksasa teknologi asal China itu berencana menggelontorkan dana mencapai 100 miliar yuan. Kalau dirupiahkan, angka tersebut setara dengan Rp 238,4 triliun! Dana sebesar itu rencananya mereka gunakan khusus untuk membeli GPU Nvidia seri H200, yang terkenal sebagai salah satu chip AI paling canggih di dunia untuk melatih model AI berskala raksasa. Bayangkan saja, jika rencana ini benar-benar terealisasi, pembelian ini akan tercatat sebagai salah satu pembelian chip AI terbesar sepanjang sejarah industri global. Yang lebih mencengangkan lagi, anggaran tahun depan ini menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan pengeluaran mereka di 2025, yang “hanya” berkisar di 85 miliar yuan.
Lantas, apa yang mendorong langkah agresif ini? Ternyata, langkah ini dengan jelas menunjukkan keseriusan ByteDance dalam memperkuat infrastruktur AI mereka, terlebih kebutuhan komputasi internal perusahaan sedang melonjak drastis. Perlu kamu tahu, platform seperti TikTok dan Douyin (versi China-nya) sebenarnya sangat bergantung pada AI di hampir semua aspeknya. Contohnya, algoritma rekomendasi di halaman FYP (For You Page) yang selalu kamu scroll, sistem penayangan iklan yang tepat sasaran, hingga mekanisme moderasi konten yang ketat, semua dijalankan oleh kecerdasan buatan. Belum lagi, ByteDance juga sedang gencar mengembangkan chatbot AI populer mereka, Doubao. Hebatnya, chatbot ini sekarang diklaim mampu memproses lebih dari 50 triliun token per hari! Angka ini melonjak sangat tajam dibandingkan posisi Desember 2024 yang “hanya” 4 triliun token, sebuah bukti bahwa penggunaan AI mereka semakin massif.
Tidak berhenti di situ, unit layanan cloud ByteDance, Volcano Engine, juga sedang menikmati masa pertumbuhan pesat. Saat ini, mereka telah melayani lebih dari 100 klien korporat besar dengan total penggunaan melebihi 1 triliun token. Prestasinya pun diakui, bahkan Volcano Engine akan ditunjuk sebagai mitra AI cloud eksklusif untuk acara Gala Festival Musim Semi China Central Television, yang notabene adalah siaran televisi paling banyak ditonton di China. Jadi, bisa dibilang, kebutuhan komputasi AI mereka benar-benar tidak main-main.
Nah, yang menarik, kabar rencana pemborongan chip ini beredar tak lama setelah muncul kabar bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump memberikan restu dengan melonggarkan aturan ekspor. Akhirnya, penjualan GPU berbasis arsitektur Hopper, termasuk sang legenda H200, diizinkan kembali ke China. Setelah pelonggaran ini, pemerintah China bahkan dikabarkan langsung menggelar pertemuan darurat dengan berbagai perusahaan teknologi lokal, termasuk ByteDance, untuk menilai kebutuhan chip mereka sebelum memberikan izin impor. Sayangnya, detail berapa unit chip yang akan dibeli belum diungkap secara pasti. Namun, kabar angin dari dalam industri menyebutkan, Nvidia sendiri konon telah menyiapkan stok sekitar 80.000 unit chip H200 yang siap dikirimkan ke China.
Merujuk pada laporan Reuters sebelumnya, perusahaan yang didirikan oleh Jensen Huang itu berencana mengawali pengiriman chip H200 ke China sekitar pertengahan Februari 2026, bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek. Menurut sumber terpercaya yang dekat dengan industri, pada tahap awal, Nvidia kemungkinan akan memasok 5.000 hingga 10.000 unit H200 dengan memanfaatkan stok yang sudah tersedia. Jumlah ini nantinya dapat ditingkatkan secara bertahap hingga mencapai total 80.000 unit, semua itu tentu menyesuaikan dengan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan. Meski begitu, jadwal pengiriman yang sudah dipersiapkan dengan matang ini masih bisa berubah sewaktu-waktu karena Nvidia masih harus menunggu persetujuan akhir dari regulator China.
Di balik ketergantungannya pada Nvidia, ByteDance rupanya tidak mau berpangku tangan. Faktanya, mereka juga dilaporkan sedang mengembangkan dua chip AI kustom hasil kolaborasi dengan Broadcom dan TSMC, yang diproyeksikan meluncur pada 2026. Lebih keren lagi, unit internal ByteDance disebut telah berhasil melakukan tape-out (tahap akhir desain) sebuah prosesor yang performanya mendekati Nvidia H20—versi chip Nvidia yang kemampuannya dibatasi untuk pasar China—dengan biaya produksi yang lebih rendah. Namun, chip buatan sendiri ini diyakini lebih difokuskan untuk kebutuhan inference, yaitu proses menjalankan model AI yang sudah jadi untuk menghasilkan output dari perintah pengguna. Sementara untuk proses training atau pelatihan model AI yang jauh lebih berat dan kompleks, GPU Nvidia yang sekelas H200 tetap menjadi pilihan utama yang sulit digantikan. Jadi, strategi mereka jelas: mengembangkan chip sendiri untuk efisiensi biaya operasional, namun tetap mengandalkan Nvidia untuk membangun fondasi AI yang paling kuat.
Kunjungi juga situs berita terupdate hanya di Desapenari.id

